kebas

kebas,
pelanpelan rasa mati dengan begitu khidmat
kembangkembang mendadak wangi kesedihan
mekar diamdiam, luruh dalamdalam

di dalam sini, jarum jam patah tiga
waktu lindap sebagai dendam
tanggal memilih mati untuk sebuah kabar yang tirus

di luar sana, cuaca mendekap batubatu
musim yang tak bisa lagi dimengerti

begitulah,
tibatiba bulan minum racun serangga
mati dalam penyangkalan
lebih bodoh dari keledai
kalah oleh tupai
tersisa pungguk yang hanya bisa
mengandai dalam lingar…

kebas, pada bebal perasaan!

memenangkan nalar, selamanya

Ini mungkin tidak bisa disebut perjalanan. Tidak ada tiket pulang yang kurencanakan. Ini juga bukanlah pelarian, sebab sejauh apapun kita, satuan jarak yang kutahu hanya detak.

Aku lebih suka menyebutnya memenangkan nalar. Setelah pertikaian tak berujung, hati dan kepala. Berpangkal dari kecerobohanku, jatuh pada cinta yang salah.

Hanya saja -seperti yang pernah kuminta- sebentar bertemu sebelum apapun itu menarikku jauh. Sebentar untuk sekadar tahu, seperti apa aroma kopi kesukaanmu. Sebentar sebelum selamanya, menjadi tiket satusatunya yang kupunya.

Hanya saja -seperti yang pernah kaukatakan- sebaiknya sebentar pun tak perlu kita sebutsebut. Sebab menjadi asing sudahlah cukup.

Maka jika ini pamit, adalah sekaligus caraku memadamkan api. Caraku menjinakkan keliaran hati. Caraku memahami, aku makin mahir saja menarik diri.

~di kepalaku, rindu dan akal sehat adu argumen setahun ini, tak ada yang menengahi, hingga telingaku tuli~

sebab takdir adalah kebetulan, bukan kebenaran

tahun kelima
dari yang sering kita sebut takdir
bertemu, lalu selanjutnya
harihari diisi kesibukan
menyalahkan waktu
memaki hujan
atau membahas katakata
pada janjijanji yang kian ambigu

saat kita biarkan takdir sebagai alasan
seharusnya
tak ada yang salah dari sebuah kekeliruan

di benak yang tamak
kita lebih suka menjadikan tuhan
sebagai sebab
mencaricari siapa malaikatnya
yang tak bijak melukis garis tangan
bahasan sambil memikirkan
halhal lain yang lebih masuk akal

sebagai takdir
tahun ini dibutuhkan
dokter bedah plastik
kita sepakat, tak lagi ada
garis kembar di tangan kita
lalu sepakat, tidak ada kita