Tikai Hujan pada Petang

@no3na dan @therendra
07 September 2011

Hey, petang tak jadi datang
Kakikakinya diikat peri hujan
Ia cemburu mengadu pilu
Cemburu pada aku yang rindu

Berapa lama camar itu menukik sia
Menyangka hujan hanya menirai petang
Ini pertanyaan yang menyesatkan rasa
Dan cemburu menjadi

Entahlah, setahuku laut tak pernah menyebut
Camar pun menduga kalut
Jera ia pada sia penantian
Jerih ia pada tikai petang dan hujan

Mengapa pula mega menjadi hambar?
Setelah sebuah hujan menuakannya
Hanya sepemetangan saja padahal
Mengapa ia menanyakan dirinya?

Ia luruh ketika pulang
Tak beranjak jua jarak rindunya
Hujan hanya mengelabui, tak jelaskan apa
Sementara petang turun tergesa

Malam meraja, beberapa saat
Dan tetes-tetes hujan
Menguap serupa rindu
Masih sangat lama lagi
Petang akan bertandang

Telah kusiapkan sesajian,
Sampai basi ia menanti kau pulang
Kaki petang, masih diikat peri hujan
Entah kapan, lepas rindu lepas pelukan

Lupakan rima, lalu purnakan saja
Kini kau sekeping petang
Yang kunanti jelang sepanjang siang
Usah rinaikan sesal sesil itu

Ah!
Purnalah rindu, ini petang
Bawakan aku selendang baru
Telah rerak ia oleh cemburu
Tikai ini sayang,
Selesaikan saja dengan serinai ciuman.

sajak di pelukan salju

duet @penyairsesat dan @no3na

cinta ini tak pernah mati,
hanya mengambil waktu semedi,
wujudnya masih bisa kulihat,
tergelar jelas di mata yang kasat

denyut bahkan telah gegas pergi,
menyisakan tangis yang belum basah,
bagaimana kutahu ia tak mati
sedang kemarau mengirim salju di hatiku?

tolonglah,
sisakan sedikit saja hangat,
denyut itu butuh jalan pulang,
saat salju mencair
dan airmata tak perlu mengalir,
 
aku hidup dari bintang yang redup,
bisakah remangnya memandu jalan pulang
ke hatimu?

bukan kuabai seluruh pesanmu,
terlalu tebal hatimu tertumpuk salju,
milikku hanya sebatang lilin,
kujaga untuk memberimu tanda,
 
di tengah badai atau disengat kemarau,
masih sempat kudengar sayup katamu menyebut nama,
sebuah nama: bukan aku,

sewindu ini,
kusimpan hanya satu nama,
tak sesiapa kecuali kau,
kugarisi waktu penanda musim,
belum juga habis almanak di dinding
 
itukah namaku?
ataukah alam yang terlalu angkuh menunjukkannya padaku?
aku tandus sedepa dari mataair

tak lain, tak kecuali,
mungkin angin menggodamu,
hingga sayup yang sampai,
hanya berharap aku pada hatimu,
mendengar rinduku purna,
 
beri aku jawab atas tanyamu,
satu windu hampir kuhidupi tanpa nada dan hujan di hati enggan reda,
beri tahu caraku menghangati salju,

sewindu mungkin terlalu lama,
membuatmu lupa pada suara
yang kerap membisik di telinga,
lupa pada bibir yang menjelajahi aksara,
aku,
 
ingatkan aku tentang bibir
yang ingin kujelajahi dengan bibirku,
umumkan pada langit,
jika bibir itu sedang menantimu,
aku menunggu,

langit sudah mencatatnya, sayang,
bahkan sebelum sempat kuucap,
kau terlalu sibuk mengibas seru,
dan abaikan aku yang menunggu
 
maafkan membuatmu menunggu,
tadi malam kusibak langit dan mencari jejakmu,
biarlah kukenang engkau dalam diam,

pada langit aku tinggalkan,
sebuah jejak penanda pulang,
sesekali setiap purnama,
aku ada di sana,
 
mengapa kita tak pernah bertemu?
siang dan malam dipertemukan senja,
dan kita?
apakah lukaluka itu mampu?

kita dipertemukan aksara,
tak peduli pagi, petang atau malam,
maka tarikanlah sajak-sajakmu,
kan kuikuti setiap gerakannya,
 
sajakku, sajak paling resah,
adakah kautakut tenggelam
bersama hati yg terlanjur basah?
aku pria biasa dengan sajak tanpa rima,

aksara kita sama,
hanya butuh hati merangkai kata,
dan indahlah ia dalam bait meski tanpa rima,
biarkan rasa yang memberinya nama.

 
28 November 2010

di nadir detak

duet @iniRickRick & @no3na

 
letih sekali jantung ini,
ingin kuhentikan detaknya,
ketika kau kembalikan hatiku,
penuh sayat luka menganga,
harus di mana kugantungkan?

maaf,
hati ini terpaksa kukembalikan,
tanganku terlalu kasar
untuk hati yang rapuh,

rapuh oleh diammu,
lemah oleh waktu yang kaubiarkan berputar tanpa arah,
luka itu oleh khianatmu sendiri,
 
aku terlalu takut kau terluka,
ketakutanku menghardik pikiran dan hatiku untuk terdiam,
tak pernah kudapat yang seindah ini,

lalu kau sebut apa sayat menganga itu?
keindahan itu semu saat airmataku menjadi mutiara retak,
perih ini menghentikan detak nadi,
 
saat sentuhan ragamu membangkit birahiku,
kau lesatkan sukmaku mengangkasa,
saat itu kukuku menancap dalam di raga indahmu,
bukan salahku

aku mendengar sunyi,
saat jemarimu menyentuhku,
bukan nyanyian rindu,
hanya deru yang muncul terburu,
hatimu, tak ada di sini,

mungkin memang hanya deru itu punyaku untukmu,
hanya ada rasa yg merusak kalbu,
maka kurela lepaskanmu,
meski masih terperih luka itu,

dan kini hatiku kembali,
sendiri, tak lagi utuh,
mungkin butuh selaksa waktu,
hingga senyap ia,
dan nadiku di nadir detak.

untitled

duet @menghunjam & @no3na

 
dan seluruh syarafku melupa,
segala hal selain tentangmu,
seluruh alpa memeluk waktuku,
kecuali untuk memikirkanmu,

seperti ingin lupakan kehidupan nyata,
hanya inginkan keindahan yang sebenarnya fana,
entah kemana logika,
terpenjara aku oleh cinta

berharap setiap musim adalah hujan,
setiap waktu adalah malam,
agar masa mengingatmu tak terganggu,
agar lukisan wajahmu utuh,

serasa hanya menginginkan hari ini,
bukan kemarin, esok ataupun lusa,
karena mungkin di waktu itu kau tak dalam pelukan,

menjadi akrab dengan sepi,
bersahabat dengan diam,
berteman dengan gelisah,
berharap ada seribu satu cara
membuatmu mengertiku tanpa kata,

ingin hentikan suarasuara,
lalu kita mengulum cinta dalam pandang mata,
lama, biar lesap semua rindu yang mendera di dada,

tadi pagi kutitipkan pada hujan,
berjanji disampaikan sebelum senja pulang,
aku lupa, matahari cemburu padamu,
hujan senja tak jadi bertemu,

bisa kau larutkan bersama pekat malam,
biar terbawa oleh cahya kunang yang temaram,
sebab di sini gelisahku terus merajam,

rindu ini terlalu pekat,
takkan larut bersama malam,
biarlah kulukis satusatu di bentang langit,
tengadahlah, ia disana.

potret hujan

duet @therendra & @no3na

kudapati, kekasih,
lembar potretmu terakhir, buram
karena airmata yang pernah kuteteskan di sana
ingatkah hujan itu?

hujan yang kurekam dalam durasi panjang
menceritakan seluruh kisah
potret itu hanya bagian kecilnya
aku takkan lupa

kusisakan airmata untuk kaurajam
masa telah kejam mencerabutmu dariku
hujan sebenarnya menggelayut dalam sanubariku

masa tak pernah mencerabutku darimu, sayang
hanya menggodamu dengan jarak
ia kan tertawa saat hujan membuatmu menangis

kau selalu bercanda dengan hujan
kau lupa?
entah berapa purnama sudah aku tak membelai rambutmu?
hanya potret saja!

hujan mengakrabi sendiriku
membantuku melukis detail wajahmu
ingatan yang kini kupajang
saat pesanmu lewat di udara basah

tapi aku tak pernah bersahabat dengannya
hujan selalu mengaburkan bingkai wajahmu
kuharap firasatmu benar tentangnya

jangan limpahkan kesalmu pada hujan
ia selalu bisa memotret kenangan
dari sekuel ke sekuel
biarkan ia menjahili harimu

gelakku selalu tumpu pada leluconmu
aku janji pada potretmu,
akan kucari kau di dalam hujan
siapa tahu kau kudapati

ikuti saja kata hatimu
kan ada aku menari di tiap rinainya
kutembangkan pula cicitan pulang camar laut
aku, merindukanmu…

akan kusibak tirainya begitu kudengar kecipak langkahmu
hujanpun masih sama deras
potretpun sama buram
aku, menantimu…

~Aku dan Hujan, 2011~

sebuah pencarian

duet @therendra & @no3na

aku selalu dalam khusukku menghitunghitung mungkin
hari ini sambil menyeroki pasir sungai
harapku, kau ada di sana

aku menelusup di antara harapan yang kau hitung
mungkin mulai lindap
karna waktu terlalu panjang buat menganyam sepi

bergantiganti jaman kutelusuri
berubahubah peran kujalani
adamu masih menjelma tiada
tapi asa kusemai tetap mencari

mungkin terlalu jauh kau kembarakan diri
peka rasamu tak bisa lagi mencium aromaku
aku semili darimu

tidak!
pernah sekali kuindera semangatmu,
dari pucukpucuk rumput yang bangkit setelah terlibas roda kereta
mungkin salah?

itu aku, mengilalang saat bumi gersang
menanti geletar pedang yang memutus masa
dan aku terlewat (lagi) dari carimu

kan kucoba terjemahkan desau angin nanti
siapa tahu kau lelap disana
pada kelenting lonceng ramai,
atau daun jatuh itu?

dan saat kautemukan aku,
harusnya sepi tak lagi menyeruak dari balik penat
aku sembunyikan dari sempurnanya senyuman

kutau ikrarmu tak lagi maya,
sinar bulan tunjukkan jejakmu
yang tertutup hasratmu sendiri
barangkali, ini akhir pencarian

sengaja kutingkap jejakjejak di tanah basah
dan ilalang kering melayu kelu
penunjuk arah bagi sang rindu
sapa aku!

aku di belakangmu kini
mungkin rinduku sayu
tapi kukenali seretan gaunmu seperti malam pertama kita
menolehlah sayang!

dan senyum tak perlu kuberi pita kan
pencarianmu purna di bawah purnama
kita lekat oleh dekap yang tertunda
cukup lama…

kereta mimpi

duet @therendra & @no3na

 

kenapa harus aku yang memulai?
meninggalkanmu, melupakanmu, mengubur segalanya,
aku letih,
kau malah tertidur dengan mimpimimpimu.

 
kau lupa?
aku berpamitan baikbaik

bahkan kusampirkan sekuntum anggrek di kerudungmu
di kereta itu, mimpi dibeli

kereta itu hanya membawa tubuhmu
aku masih harus membereskan pecahan beling yang kautancapkan
kau tergesa seakan bersayap

semburat lukamu adalah dosaku
padahal sayap inipun rajutanmu
gerbong kita kuisi mimpi
agar tuhan padu kabulkannya

penatku pekat
rajutan mimpimu kian sarat
masihkah ada aku di situ?
ini musim keempat
saat keretamu tak jua lewat

bidadari, semai sabar di janinmu
parasmu erat masih,
rekat dalam lembar mimpi
kereta ini sarat jalannya berat

aku pernah meminta kepada musim
memberiku masa tak berbingkai
entahlah
tak pernah ia menjawab pinta
tak mau ia melamur lara 

bagaimana kau memohon doa
yang sedemikian lancang?
padahal kita hanya titik kecil warna
di gaun tuhan ialah empunya mimpi!

bagaimana bisa kausebut lancang?
aku meminta bukan memaksa
bahkan sebutir debu layak memohon
bahkan sehelai daun boleh berharap

ya kudengar derumu di selasela suara kereta!
malaikat mencemoohmu sayang
tapi sudah kutimpuk mereka
dengan mimpi kita yang awal: abadi

mimpi kita memadati udara
kukutipi satusatu rindu yang tersisa
kusesakkan dalam gerbong kereta
pulanglah! aku menantimu

kuhenti kereta itu
agar mimpi kita endap di angin pagi
nanti aku pulang jelma gemintang
untukmu, rembulan! aku pulang