jangan bicara dengan orang asing!

aku tidak mengenal namanama yang sering kauceritakan
seperti juga aku tidak mengenalmu
tapi bagiku, kau adalah kesenangan
dan alasan melupakan larangan ibu:
jangan bicara dengan orang asing! katanya dulu

ah! ibu…
ia tak tahu, kita tak saling bicara
hanya tibatiba saja jatuh cinta.

141112

Advertisements

memenangkan nalar, selamanya

Ini mungkin tidak bisa disebut perjalanan. Tidak ada tiket pulang yang kurencanakan. Ini juga bukanlah pelarian, sebab sejauh apapun kita, satuan jarak yang kutahu hanya detak.

Aku lebih suka menyebutnya memenangkan nalar. Setelah pertikaian tak berujung, hati dan kepala. Berpangkal dari kecerobohanku, jatuh pada cinta yang salah.

Hanya saja -seperti yang pernah kuminta- sebentar bertemu sebelum apapun itu menarikku jauh. Sebentar untuk sekadar tahu, seperti apa aroma kopi kesukaanmu. Sebentar sebelum selamanya, menjadi tiket satusatunya yang kupunya.

Hanya saja -seperti yang pernah kaukatakan- sebaiknya sebentar pun tak perlu kita sebutsebut. Sebab menjadi asing sudahlah cukup.

Maka jika ini pamit, adalah sekaligus caraku memadamkan api. Caraku menjinakkan keliaran hati. Caraku memahami, aku makin mahir saja menarik diri.

~di kepalaku, rindu dan akal sehat adu argumen setahun ini, tak ada yang menengahi, hingga telingaku tuli~