memenangkan nalar, selamanya

Ini mungkin tidak bisa disebut perjalanan. Tidak ada tiket pulang yang kurencanakan. Ini juga bukanlah pelarian, sebab sejauh apapun kita, satuan jarak yang kutahu hanya detak.

Aku lebih suka menyebutnya memenangkan nalar. Setelah pertikaian tak berujung, hati dan kepala. Berpangkal dari kecerobohanku, jatuh pada cinta yang salah.

Hanya saja -seperti yang pernah kuminta- sebentar bertemu sebelum apapun itu menarikku jauh. Sebentar untuk sekadar tahu, seperti apa aroma kopi kesukaanmu. Sebentar sebelum selamanya, menjadi tiket satusatunya yang kupunya.

Hanya saja -seperti yang pernah kaukatakan- sebaiknya sebentar pun tak perlu kita sebutsebut. Sebab menjadi asing sudahlah cukup.

Maka jika ini pamit, adalah sekaligus caraku memadamkan api. Caraku menjinakkan keliaran hati. Caraku memahami, aku makin mahir saja menarik diri.

~di kepalaku, rindu dan akal sehat adu argumen setahun ini, tak ada yang menengahi, hingga telingaku tuli~