perempuan di meja nomor sebelas

pukul delapan lebih sebelas malam
seorang perempuan memesan makan malam
seporsi pertanyaan perihal kesetiaan

matanya berteriak di telingaku
yang ciut mengerucut
dadanya pecah
lelakinya, menghentikan waktu
lewat pesan singkat

lalu, kepedihan berpola gerimis
memaksa jadi hujan

duhai tuan, lelaki di seberang lautan

dada perempuan, bukanlah tembok kota, yang tabah dikencingi anjing, dicoreti tulisantulisan kotor, lalu diamdiam dijadikan tempat sampah

dada perempuan, lacilaci penyimpan ampun, namun jumlahnya kadang tak cukup, kau juga tak bisa berharap ada potongan harga di akhir tahun

dada perempuan, lemari besi penjaga janji, dari lelaki pemegang kunci
ia diam, linglung, saat tuan bilang kuncinya hilang

sungguh, perempuanmu berteriak dalam diam
tak ada kaca retak atau telinga berdarah
tapi coba hitung, keping beling yang menghambur
melukai mata, nadi, dan jantung

di meja nomor sebelas ini
perempuanmu memuntahkan cinta
ke dalam piring makan malamnya
cintamu, lelakinya

betapa, yang bisa kulakukan hanya memeluk kepatahan, menggenggam kepedihan
katakata hiburan kusimpan sendiri saja, sebab tak dibutuhkan

jika pun, telinga kutulikan, jeritan menembus hingga ke jiwa
sengguk yang mampu menyatukan seluruh hulu, meluapkan seluruh pilu

apatah kesetiaan, bila cacat tak bisa dituntut, bila cukup tak bisa dijemput
apatah jarak, atau waktu, adalah kambing hitam yang perlu diberi piala

aku diam, waktu masih diam
di kepalaku mulai membayangkan wujud kesetiaan
bulat, oval atau lengkung cekung
aku menyerah pada nir, pada nihil