~lengang~

Marhaban!
Kataku pada seorang lelaki asing
Jangan berdiri di depan pintu!
Ia bergeming, bibirnya membentuk garis
Tidak melengkung ke atas, tidak ke bawah

Marhaban!
Kataku lagi pada lelaki asing itu
Sepatunya menggarukgaruk tanah penuh lumpur
Terguyur hujan sisa musim kemarin
Matanya bergerakgerak bicara

Aku diam, membaca bait demi bait
Dari matanya yang berputarputar
Ke kanan ke kiri
Ke atas ke bawah
Lalu sebuah buku tebal tentang keasingan, terbit

Kugamit tangannya yang kaku memeluk angin
Masuk ke bilik berdinding kayu lapuk
Di sana, ia diam berdiang di tiangtiang
Memeluk aku yang diamdiam liuk meriang

Marhaban!
Langit terang, ia hilang
Buku tebal dari diamnya, tertinggal
Keasingan kini menjadi sunyi
Angin mengetuk sendiri ruangruang lengang.

Advertisements

~mesin kopi bertombol banyak~

Aku memulai sebuah perjalanan lagi. Bukan soal menjauh atau mendekat. Hanya butuh waktu yang tepat, untuk memutuskan berhenti.

Tadi pagi di ruang sarapan, bijibiji kopi digiling dalam mesin bertombol banyak. Aromanya sedikit menutupi rasa pahit, bernama kehilangan.

Saat bijibiji kopi mulai digiling, aku menahan perih yang tibatiba saja muncul. Mungkin ada yang ikut hancur, sesuatu di dalam sini.

“Pergilah ke suatu tempat, di mana rindu pernah kutanam, dalam kaleng bekas biskuit murah. Seperti itulah cara kanakkanakku menyimpan ingatan.”

Di jalanan basah depan ruang sarapan, genangan hujan memenuhi lekuk jejak yang ditinggalkan sepatumu, sepeda tandem biru, dan genggaman yang terlepas.

Orangorang menyebutnya kehilangan.

Tentang kehilangan, kita sepakat menamainya perempatan jalan, atau delapan penjuru angin. Mungkin seperti itulah kita, mengemis pada musim.

Tentang kehilangan, kita menandainya dengan satu ciuman, di udara kosong. Membiarkan keasingan tibatiba muncul, merupa tembok tumbuh di kotakota.

Tentang kehilangan, orangorang merayakannya dengan sedusedan dan pelukan yang meregang. Kita, memilih melatihnya sejak lama.

Tentang kehilangan, kita berdiri di antara katakata klise dan ketakinginan. Kemudian memilih keduanya, sendirisendiri.

Masih hujan. Dari langit berhamburan fotofoto hitam putih, sebagian robek, berjamur di sanasini. Di sudut jalan ada yang sibuk menyalakan api dan mengibaskan tempias dari pipi.

Aku, berhenti di sini…

~pagi yang bising~

Negeri ini, tak lagi setenang pagi
Pagi, juga lupa pernah memiliki sunyi
Nyanyian burung diganti berita televisi
Tentang artis yang pisah ranjang
Atau baru saja tertangkap kamera setengah telanjang
Menu sarapan baru di meja makan.

Negeri ini, tak lagi setenang pagi
Pagi, juga tak pecah oleh terbit fajar
Tapi oleh sisa tawuran pelajar
Mahasiswa belajar cara memegang parang
Katanya 3 SKS tanpa teori dan langsung jadi pakar.

Negeri ini, tak lagi setenang pagi
Surat kabar membuat rasa kopi jadi getir
Berita utama tentang neraca yang miring
Sorenya jadi bungkus kacang garing
Dibeli kiloan dari pemulung dan tukang sampah keliling.

Negeri ini, sudah terlalu bising
Semua mulut minta didengar
Semua orang merasa benar.

~kuteruskan menyesap kopi getir, dan meremas koran kemarin pagi~

siang tadi ibunya pergi

siang tadi,
aku lihat seorang bayi
dipaksa kehilangan susu ibunya
tangisannya susah payah diredakan
sang kakak,
gadis kecil yang baru saja
dibelikan seragam putih merah.

siang tadi,
susu ibunya berhenti menetes
berhenti di ujung nafas terakhirnya
hati dan ginjal rusak memaksanya pergi
meninggalkan si bayi mencaricari

siang tadi,
keduanya dipaksa mengenal kehilangan
belajar menandai keranda dan wangi bungabunga
belajar tentang liang lahat
tempat susu dan pelukan ibunya disimpan

siang tadi,
mereka punya gelar baru: anak piatu

~innalillahi wa innailaihi rajiun~

~mei~

Mei, 
bungabunga liar mekar 
bijibiji dibawa angin 
jatuh di jantung bumi 
berdetak, bernyawa 
entah di sana musim apa 
di sini, cinta.

Mei, 
aku memilih melukis
matahari abuabu 
biar tak terlalu terang 
saat lukaluka
tak sengaja muncul
di retina mata.

Mei, 
lihat! 
tahun ini, akan ada seribu musim
langit boleh memilih warna apa saja 
daun bisa gugur kapan saja
dan matahari, mungkin masih abuabu.

lalu Mei, 
jarijari hanya tinggal menghitung
hingga Juni 
katanya,
hujan telah lama dipesan
untuk bijibiji tumbuh
kian liar.

Mei, 
sebelas bulan lagi 
masih Mei 
tapi musim kurasa punya nama lain
lalu akan ada warna baru
untuk matahari 
dan bungabunga liar
bisa saja tak memilih mekar 
aku, juga entah.

Mei, 
entah musim apa di sana 
di sini, cinta 
itu saja.

~030512~