dari sahaya kepada tuan

anda itu Tuan, suka sekali mencalar senyum di batu kali, buatku risau mencaricari.

cobalah sesekali, Tuan, merajahnya saja hanya di wajah, supaya mudah khayalku menjamah.

anda itu Tuan, suka sekali menyimpan pendar kepunyaan mata, sembunyikan cinta dari sahaya, habislah waktu menerkanerka.

sesekali saja, Tuan, gerakkan bibir berkatakata, tak perlulah susah Tuan memandang, jantung ini pasti rentak berdendang.

anda itu Tuan, suka sekali mencalar senyum di batu kali, habis usaha merebak alir, habis usia menebak hati.

maghrib

Maghrib, ada yang tersesat pada selembar kain bergambar masjid bertiang banyak, saat menunduk tak bisa lagi membuka mata. Hanya bibir yang mengucap, mengecup lirih, hurufhuruf dalam sebaris doa, atau ayat, atau surat, atau apa saja dalam kitab bertulisan Arab.

Maghrib, ada yang bingung dan linglung, menatap langit merah dengan kelam di ujung, gelisah luntanglantung mencari di antara mendung, matanya liar tak berkedip. Hanya mata di kakinya mengajak berjalan, arahnya entah, tujuannya antah.

Maghrib, tak ada kulit kerbau dipukul berirama, hanya lempengan cakram perekam berkualitas kaki lima, memanggil, mengajak. Dan ada yang terpuruk menutup telinga dengan penyumpal kapas, menutupnya sampai ke hati, sampai ke jiwa. Kemudian Isya datang, ia pulang ke ranjang perempuan jalang.

Maghrib, cuma iklan di televisi negeri ini.