calon pengantin

Hujan. Jariku mengetuk-ngetuk meja pelan, sambil sesekali kusesap kopi di depanku. Mataku masih tak bisa lepas memandang jendela. Butiran air mengalir membentuk tirai bening di kacanya. Jam 6 sore dia akan menyusulku ke sini. Pernikahan kami dua minggu lagi, banyak hal yang harus dibicarakan. Dia belum mengambil cincin kami di toko permata langganan Mama. Cantik. Aku sudah melihatnya. Tapi baru bisa diambil besok. 

“Maaf Mbak, kami sudah mau tutup,” tegur seorang pelayan sambil tersenyum. Lamunanku buyar. Aku bergegas bangkit, merapikan gaunku, lalu pulang. Mungkin nanti malam dia menelponku.

 

******

Aku, mempersiapkan tagihan bulanan perempuan itu ke keluarganya, ini bulan ke-6. Perempuan itu selalu datang ke kafe ini. Bergaun pengantin, selalu lupa membayar.
Advertisements

cermin eboni hitam

Ini pertama kalinya aku kembali ke kampung ini, setelah 20 tahun kutinggalkan. Rumah nenek masih sama, walau terlihat serenta pemiliknya. Ingatan renta itu masih bisa mengingatku dengan baik. Memelukku dengan rindu yang ingin diledakkannya.
Kamar ini dipakai Ibu 20 tahun lalu. Aku mengingat jelas detailnya, semua masih di tempatnya. Termasuk cermin itu… Tiba-tiba tubuhku dingin, tanganku kaku, meski ingin sekali menyentuh cermin tua itu.
Cermin berbingkai eboni hitam itu milik Ibu. Ada pecahan kecil di sudutnya. Pecahannya hilang. Bukan, bukan hilang. Pecahannya dipakai Ibu mengiris nadinya, ketika Ayah pergi meninggalkan kami. Kini aku pulang membawa pecahannya. Ya, aku menyimpannya, ada bekas darah Ibu di situ. Pecahan yang sama, untuk mengiris nadiku.

Gadis Peramal

“Mari aku ramal,” kata gadis bermata indah di depanku. “Hei, sejak kapan kau bisa meramal?” tanyaku heran. Ia tak menjawab, hanya tersenyum sambil mengambil cangkir kopiku. “Aku meramal dari ampas kopi di dasar cangkir,” lanjutnya. “Kau sedang jatuh cinta?” tanyanya tiba-tiba. “Emm…gak!” jawabku sekenanya. Gugup yang pasti.
Ya Tuhan, aku bohong lagi…
“Baguslah, karena menurut kopimu, gadis yang kau jatuhi cinta sebentar lagi akan pergi meninggalkanmu. Saranku sih, segera katakan perasaanmu sebelum semuanya terlambat.” Gadis itu mengembalikan cangkir kopiku dan tersenyum. Mata indahnya ikut tersenyum, menggoda.
—-
Hari ini, disaksikan senja yang sempurna, aku bertekad menyatakan perasaanku pada gadis yang selama ini mengganggu mimpiku. Gadis bermata indah itu. Tepat di depan nisannya.

Lima Belas Ribu Rupiah

Pukul 5 pagi, aku keluar dari susunan kotak kardus berlapis plastik lusuh, yang kusebut rumah. Kudorong gerobak Bapak ke ujung jalan, tempat sampah manusia sejagad dikumpulkan. Hari ini aku harus membawa uang. Obat bapak sejak kemarin habis. Jangan tanya apa sakitnya. Kami tak mengenal kata dokter atau rumah sakit. Bapak kubelikan obat bebas di warung depan. Hanya untuk mengurangi rasa sakitnya.

Jelang petang, kutuju gubuk Bang Tarjo. Di sana kutimbang bermacam barang yang bisa kujual. Lima belas ribu rupiah di tangan. Alhamdulillah…. Senyumku tak mau hilang, bahkan ketika warung Bu Haji harus kugedor karena kemalaman.
Obat di tangan, aku pun pulang. Di rumah, Bapak ternyata berpulang. Aku lupa membelikannya makan siang.

panggilan dari surga

Hai, cinta…apa kabarmu di sana? Apa yang kau lakukan saat senja seperti ini? Aku sedang duduk di beranda samping, di kursi rotan, tempat kita biasa menunggu senja hingga semburat jingganya hilang dipeluk malam.
Hai, cinta…rindukah kau padaku? Sudah lima hari kau tak menghubungiku. Aku selalu menunggu dering panggilan di telepon selulerku, dengan namamu di layarnya, memanggil-manggilku. 

Oh iya, aku lupa bertanya, apa di surga ada telepon atau apapun yang bisa kau gunakan untuk menghubungiku? Pasti ada. Keadaan di sana jauh lebih baik kan dari di sini, berarti itu juga termasuk untuk urusan komunikasi. Hubungilah aku sesekali. Nomerku masih yang lama, kau hapal kan? Aku tunggu ya. Aku rindu panggilan sayangmu.

kucuri saja

aku suka mencuri dengar,
dengan telingatelinga curian,
kucuri di pasar jagal,
milik ratusan ternak yang sedang sial.

aku suka mencuri pandang,
dengan matamata karbitan,
kusita dari pembunuh bayaran,
milik ratusan kepala yang kini buta.

aku suka mencuri waktu,
dengan jam tangan murahan,
kucuri dari pasir dan matahari,
kupakai di tangan kanan dan kiri.

aku lebih suka mencuri hatimu,
dengan diamdiam tanpa bicara,
karena tak kupunya sesuatu
jika kaupaksa aku membayarnya.

sajak di pelukan salju

duet @penyairsesat dan @no3na

cinta ini tak pernah mati,
hanya mengambil waktu semedi,
wujudnya masih bisa kulihat,
tergelar jelas di mata yang kasat

denyut bahkan telah gegas pergi,
menyisakan tangis yang belum basah,
bagaimana kutahu ia tak mati
sedang kemarau mengirim salju di hatiku?

tolonglah,
sisakan sedikit saja hangat,
denyut itu butuh jalan pulang,
saat salju mencair
dan airmata tak perlu mengalir,
 
aku hidup dari bintang yang redup,
bisakah remangnya memandu jalan pulang
ke hatimu?

bukan kuabai seluruh pesanmu,
terlalu tebal hatimu tertumpuk salju,
milikku hanya sebatang lilin,
kujaga untuk memberimu tanda,
 
di tengah badai atau disengat kemarau,
masih sempat kudengar sayup katamu menyebut nama,
sebuah nama: bukan aku,

sewindu ini,
kusimpan hanya satu nama,
tak sesiapa kecuali kau,
kugarisi waktu penanda musim,
belum juga habis almanak di dinding
 
itukah namaku?
ataukah alam yang terlalu angkuh menunjukkannya padaku?
aku tandus sedepa dari mataair

tak lain, tak kecuali,
mungkin angin menggodamu,
hingga sayup yang sampai,
hanya berharap aku pada hatimu,
mendengar rinduku purna,
 
beri aku jawab atas tanyamu,
satu windu hampir kuhidupi tanpa nada dan hujan di hati enggan reda,
beri tahu caraku menghangati salju,

sewindu mungkin terlalu lama,
membuatmu lupa pada suara
yang kerap membisik di telinga,
lupa pada bibir yang menjelajahi aksara,
aku,
 
ingatkan aku tentang bibir
yang ingin kujelajahi dengan bibirku,
umumkan pada langit,
jika bibir itu sedang menantimu,
aku menunggu,

langit sudah mencatatnya, sayang,
bahkan sebelum sempat kuucap,
kau terlalu sibuk mengibas seru,
dan abaikan aku yang menunggu
 
maafkan membuatmu menunggu,
tadi malam kusibak langit dan mencari jejakmu,
biarlah kukenang engkau dalam diam,

pada langit aku tinggalkan,
sebuah jejak penanda pulang,
sesekali setiap purnama,
aku ada di sana,
 
mengapa kita tak pernah bertemu?
siang dan malam dipertemukan senja,
dan kita?
apakah lukaluka itu mampu?

kita dipertemukan aksara,
tak peduli pagi, petang atau malam,
maka tarikanlah sajak-sajakmu,
kan kuikuti setiap gerakannya,
 
sajakku, sajak paling resah,
adakah kautakut tenggelam
bersama hati yg terlanjur basah?
aku pria biasa dengan sajak tanpa rima,

aksara kita sama,
hanya butuh hati merangkai kata,
dan indahlah ia dalam bait meski tanpa rima,
biarkan rasa yang memberinya nama.

 
28 November 2010