musim gugur di halaman belakang

musim gugur tiba di halaman belakang
ranting pun ranggas
dedaun tak menyisakan dirinya lagi
membebaskan angin merengkuh jauh
kering

musim gugur mampir sebentar
tiga belas menit menjelang senja
helaian daun menutupi jejakjejak di tanah
kuhitung satusatu hingga musim selesai
kurekat di ujung tiap ranting
menciuminya hingga tumbuh
tunastunas mengintip
hijau

ada musim gugur di halaman belakang
hanya sehari
dan berakhir semenit menjelang petang
setelahnya musim tak pernah datang lagi

~selesai~

marihat, 22 Agustus 2010
15:52 wib

pujangga angin

ketika semua menunjuk
pada cakrawala tanpa batas
aku cuma bisa menangisi tumpukan kisah basi
tentang percintaan yang kesiangan
tentang jiwa yang mengering
di lautan asmara
menambah guratan fosil di dinding-dinding lorong kesedihan
deretan kisah turunan para dewa
para dewa tanpa kahyangan

ketika semua menangisi kisahku
aku cuma bisa mengingat alur ceritanya
terpotong iklaniklan murahan
tentang seseorang yang bercinta dengan angin
cinta seorang pujangga tanpa bakat

medan, 21 mei 2004

tak berakhir

ada apa diderai hujan
yang turun tanpa mendung
yang berhenti tanpa pelangi

aku memandang langit
hanya langit
kemana bintang yang hendak kutuju

ada apa di perjalananku
yang dimulai tanpa hati
serasa tanpa akhir

ada apa didiriku
yang berjalan tanpa nyawa
tanpa raga
dan harus terus berjalan

menungguku jatuh di perjalanan
atau tiba di langit
tapi tak ada bintang di sana

ada apa di tujuanku
apa berakhir tanpa titik?

djogja, 23 mei 2007
20.11 wib

ketika gelap mulai menutupi kaki merapi
aku cuma bisa menyesali siang yang lewat

rindu setengah perahu

kau pulang dengan sebungkus dongeng
tentang telaga yang airnya biru
oleh keniscayaan langit
tepiannya ditumbuhi lumut berlapis rindu
milik seorang pujangga yang kelelahan ditemani waktu

katamu dia percaya
bila saatnya datang
sang rindu akan membawanya pergi
ke seberang tepian dengan perahunya
yang dipenuhi janji dan kesetiaan
dengan kayuh dari kayu penantian
terbiasa bercanda dengan halilintar

ketika kau harus pergi lagi
aku menantimu membawa dongeng yang lain
meski waktu tak kan kabari kapan
aku tak kan kelelahan
selama hujan masih tak mengubah warna telaga
selama sang rindu masih punya perahu

akan kutitipkan isinya sebagian untukmu
dibungkus kain perca peninggalan sang pujangga
dari tepian telaga
yang birunya (masih) seniscaya langit…

26 januari 2008
masih pagi…

belum terlalu malam

sebenarnya belum terlalu malam
saat kuputuskan
untuk mulai menanti pagi
meski waktu yang kubutuhkan
jadi lebih panjang
aku lakukan karena berharap
engkau datang dan duduk di sampingku
menemani
menatap bulan
menghitung bintang
melukis langit

sebenarnya malam belum akan berakhir
ketika kuputuskan
untuk berhenti menanti pagi
karena ternyata engkau tak jua datang
padahal bintang yang kuhitung
sudah sejuta
aku lelah dan ingin tidur
biarlah pagi datang sendiri…

tarian hujan

Sepi dini hari
Ketika episode rutin
Tentang mimpimimpi kosong
Belum juga bisa kumulai

Hujan tengah menari di luar kamar
Mengikuti tembang ayunan angin
Rintiknya gemulai hentikan waktu
Dan duniaku diam

Hanya ada aku
Dan cerita di kepalaku
Potongan kisah yang tak pernah lengkap
Tentang sosok mirip malaikat

Hhh…duniaku diam
Di antara irama rinainya
Takkan selesaikan cerita apapun
Dini hari ini

Sepi…
Meski hujan masih menari
Hanya sebentar bisa kunikmati
Yang kian lama kian melemah
Rinainya terhenti satusatu
Dan duniaku tetap diam

Bahkan saat sang malaikat
Menari bersama hujan
Yang telah lama diam…

Djogja, 2 Januari 2009
01.10 wib
Dini hari ini…

dan waktupun berlari

mungkin hari ini
tak ada lagi hapalan perkalian
satu hingga sepuluh
di depan kelas
dengan tangan terkepal di belakang
basah oleh keringat
karena tadi malam lupa belajar

mungkin hari ini
tak kan kita temui lagi
seragam putih abuabu
menunggu bel pulang sekolah
dengan gelisah dan terasa lambat
karena janji ke tempat mang udin
tukang bakso favorit
di sudut jalan

hari ini telah jutaan menit lewat
dari masa yang cuma ada senyum
cuma ada canda dan tawa
atau panik tiap kali ujian akhir

hari ini telah puluhan ribu jam berlalu
sejak yang ada hanya kesenangan
dan rindu ke masa itu hanya bisa
dipendam dalam fotofoto buram
di album tua di atas lemari kamar

hari ini usia membawa kita
pergi jauh dari semuanya
rasa yang beda
hati yang lain

kini kita harus belajar lebih banyak
tentang airmata untuk segala alasan
tentang senyum untuk banyak hal
tentang marah pada semua sebab
tentang cinta dengan segala bentuk
dan hidup jadi tak punya tawa selepas dulu
dan hari menjadi lebih cepat pergi…

medan, 5 januari 2009
01.05 wib

~selamat ulang tahun nuna~